SINEASZ ™

akan membuka matamu tentang dunia

Synopsis dari Novel : PADI MEMERAH

Novel Sastra

PADI MEMERAH

Aji Setiakarya

  • Judul, penulis             : Padi memerah, Aji Setiakarya
  • Tokoh, karakter          :

Sapit                              =  Baik, Sabar

Sarnen                          =  Jahat, Keras kepala

Pak Sugih                     =  Jahat, Dengki

Misran                          =  Baik, Berani

  • Setting

Tempat / lokasi    : Desa Ciwarna

Waktu                   : Saat musim kemarau

  • Tema                             : Pembunuhan

Sapit sudah siap dengan cangkul dipunggung kiri dan sebilah sabit yang di selipkan di pinggang bagian kiri pula. Dilangit bulan sedikit tersisa membentuk seperempat lingkaran, menyerupai celurit. Fajar belum ada tanda-tanda akan tampak. Orang-orang kampung masih pulas diatas kasur yang empuk. Ayam-ayam belum ada sinyal untuk berkokok.

Sapit mengatakan pada istrinya bahwa padi kita kekeringan, daun-daunnya menguning dan mengelinting. Pagi seperti ini biasanya belum ada orang yang berani ke tanggul untuk mengairi sawah. Setelah itu, Sapit berangkat ke arah selatan menuju tanggul bambu, 200 meter dari sawah garapannya. Tubuhnya hilang ditelan suasana malam yang dingin menggigil dan suara jangkrik.

Pagi masih buta. Dengan hati-hati dan penuh waspada, Sapit menyusuri setiap pematang yang menuju tanggul bambu. Dia khawatir kalau ada orang yang melihatnya. Tapakan kakinya tidak diperkenankan menginjak bumi, ia menjinjing sandalnya, dan membiarkan mengapung diatas air.

Dua bulan kemarau yang melanda Ciwarna membuat sawah garapan Sapit tak teraba air. Sungai yang mengairi sawahnya ditutup oleh Sarnen, penggarap sawah milik Haji Malik. Sawah Sapit tak tersentuh air dari sungai itu padahal, Sapit ikut memebelikan karung bekas buat menumpuk tanah dan membendung tanggul. Demi keselamatan padinya, Sapit terpaksa mengorbankan jam tidurnya untuk membongkar tanggul Sarnen.

Malam semakin menurun, Fajar mulai tampak di sebelah Timur. Sapit duduk di gubuknya sambil mengawasi aliran air ke sawahnya. Dia harus pulang karena menunggu sampai pagi adalah malapaetaka terhadap Sapit. Keesokan harinya, hujan yang dipekirakan Sapit itu meleset. Awan yang telah menggumpal tidak berhasil menjatuhkan air .

Sapit kembali menuju ke tanggul bambu. Sesekali ia terperosok ke lumpur, dan kakinya dipenuhi lumpur. Dia melihat darah segar mengalir di hamparan lumpur itu, dan ternyata darah itu adalah darah warga yang membuat padi memerah, langkahnya dibayangi kenangan muram tentang seringnya warga rebutan air untuk mengairi sawah. Dan Parang adalah penentunya.

Lima belas tahun yang lalu. Saat itu umur Sapit masih sepuluh tahundan sawah pun kekeringan pada saat itu. Misran yang sehari-harinya bertani di sawah mau tidak mau harus menyelamatkan padinya dengan cara membongkar tanggul yang saat itu dikuasai pak Sugih. Rencana itu diceritakan kepada keponakannya yang yatim piatu, yaitu Sapit.

Pagi-pagi buta Misran menuju tanggul bersama Sapit, setelah sampai di tanggul paman Misran membongkar tanggul dan lama-lama air pun mengalir ke sawah Misran. Sapit dibangunkan pamannya untuk ke Sawah. Sesampainya di sana, paman segera mencangkul sawahnya. Dari jauh Sapit melihat Pak Sugih mendatangi pamannya. Dan mereka langsung bertengkar. Tiba-tiba mereka mengambil celurit dan langsung saling menusuk. Darah segar mengalir dari tubuh Misran, memercik memerahkan padi dan tiba-tiba Misran tergeletak di sawahnya, dan Misranpun mati.

Sapit kesawah, saat sedang mencangkul ia mendengar suara ,dan ia berbalik dan melihat Sarnen, amarah pun tak dapat dibendung Sapit siap dengan cankul dan Sarnen siap dengan parang.

Matahari semakin panas memercikkan api dan bara akan terjadi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: